Tafsir bil Ma'tsur, Pesan Moral Al Qur'an (Jalaludin Rahmad)
Oleh: Nur Hidayatullah
Sukirno
Biografi Jalaludin Rahmad
Jalaluddin Rahmat adalah nama yang tak asing disebut dalam dunia ilmu pengetahuan di Indonesia. Pria kelahiran 29 Agustus 1949 ini lebih dikenal sebagai pakar komunikasi. Meski demikian, berbagai karya yang berkaitan dengan dunia keislaman, termasuk karya dengan tafsir al-Quran. Ayahnya dalah seorang aktifis islam di desanya. Ayahnya adalah seorang kiyai yang juga lurah desa. Akibat kemelut politik islam pada saat itu, ayahnya meninggalkannya dalam usia dua tahun. Ia meninggalkan desanya sejak masuk SMP di kota Bandung. Karena merasa rendah diri, kang Jalal menghabiskan masa remajanya di perpustakaan negeri peninggalan Belanda. Disinilah ia berkenalan dengan gagasan-gagasan besar para filosof, terutama Spinoza dan Nietzche. Sejumlah buku berbahasa arab ditinggalkan ayahnya dan kemudian di baca oleh kang Jalal. Dari sini ia berkenalan dengan Ihya’ Ulumuddin karya Imam Ghozali.
Gelar kesarjanaannya di raih di jurusan penerangan Fakultas Publistik Universitas Padjajaran Bandung (1976). Dalam posisinya sebagai dosen, ia memperoleh beasiswa Fulbright dan masuk Lowa State University. Ia mengambil kuliyah komunikasi dan psikologi. Ia lulus dengan predikat magna cum laude. Karena mendapat perfact 4.0 grade point average. Sepulangnya dari Amerika, ia aktif mambina mahasiswa dan banyak memberikan kuliyah etika dan agama islam di ITB dan IAIN, serta berobsesi untuk mengkaji hubungan sains dan agama.
Gelar kesarjanaannya di raih di jurusan penerangan Fakultas Publistik Universitas Padjajaran Bandung (1976). Dalam posisinya sebagai dosen, ia memperoleh beasiswa Fulbright dan masuk Lowa State University. Ia mengambil kuliyah komunikasi dan psikologi. Ia lulus dengan predikat magna cum laude. Karena mendapat perfact 4.0 grade point average. Sepulangnya dari Amerika, ia aktif mambina mahasiswa dan banyak memberikan kuliyah etika dan agama islam di ITB dan IAIN, serta berobsesi untuk mengkaji hubungan sains dan agama.
Tafsir bil Ma'tsur, Pesan Moral Al Qur'an
Kitab/buku Tafsir bi al-Ma’tsur – Pesan Moral Al-Quran adalah salah satu buah karya Jalaluddin Rahmat dan menjadi khasanah kepustakaan buku tafsir karya anak bangsa. Buku ini mulai ditulis saat menjelang Ramadhan 1413 H. atas permintan untuk menulis pada kolom dengan judul Marhaban Ya Ramadhan, kemudian berlanjut menjadi sebuah buku tafsir yang kemudian diberi judul Tafsir bi Al-Ma’tsur Pesan Moral Al-Quran, merupakan Tafsir Al-Quran bi al-Ma’tsur yang ditulis dalam bahasa Indonesia.
Tafsir ini diterbitkan pertama kali oleh penerbit PT Rosda Karya pada tahun 1993, terdiri dari 251 halaman. Dimulai dengan mengetengahkan tafsir isti’adzah sebagai merujuk pada perintah Allah untuk membacanya ketika kita hendak membaca al-Qur’an sebagaimana termaktub dalam An-Nahl ayat 98 dan diahiri dengan menghadirkan tafsir surah at-Takatsur sebagai peringatan bahwa kita jangan terlena oleh memperbanyak harta benda sampai melupakan ahirat, padahal di ahirat semua harta yang ada pada kita akan dimintakan pertanggungjawabannya. Pada bagian ahir dilamapirkan teks-teks hadits yang dijadikan sebagai rujukan dalam menafsirkan ayat-ayat yang terpilih untuk ditafsirkan dalam kitab ini.
Tentunya kita semua akan bertanya-tanya apa yang mendorong Jalaluddin Rahmat menulis tafsir bil Ma’tsur ini. Menurut penjelasan beliau adalah bahwa sebuah gambar Kartopus, yang sangat mengesankan. Seorang gadis belia, berusia sekitar sepuluh tahun, berjilbab dan tersenyum manis. Ia memeluk al-Quran berukuran besar. Inilah generasi al-Quran bersamaan dangan kebangkitan islam, kita lihat minat generasi abad ini untuk mempelajari al-Quran. Tentunya banyak hal-hal yang menarik dari tafsir ini, konon Gladstone adalah seorang arsitek imprealism Inggris, pernah membawa al-Quran ke gedung parlemen. Sambil mengacung kan kitab suci itu, ia berkata : “selama orang-orang Mesir itu memegang buku ini detangan mereka, kita tidak akan menikmati kedamaian di negeri itu”. Hari ini yang memegang al-Quran bukan hanya orang-orang islam di Mesir, di Iran, presiden Rafsanjani mencium Endang, anak Indonesia, karena ia menegakkan rakyat Iran dengan qira’atnya yang indah.
Generasi abad ini adalah generasi al-Quran, tingakat kecintaan kepada al-Quran sudah sangat ekstrim, sehingga sebagian orang menganggap al-Quran saja sudah cukup, karena itu mereka menolak adanya sunnah yang dipandangnya selain tidak otentik juga membingungkan, sebagian lagi menafsirkan al-Quran tanpa bantuan ilmu-ilmu al-Quran. Tak jarang mereka manghasilakan penafisran yang aneh-aneh, dan akhirnya menafikan tafsir-tafsir yang lain. Sebagian lagi mngusulkan penafsiran kontekstual. Kita harus memahami ayat dengan latar belakang historisnya. Kita harus melihat bahwa bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya memahami ayat-ayat itu. Hampir semua orang setuju dengan cara ini, tetapi mereka kekurangan sumber rujukan. Tatkala umat islam sedang bersemangat kembali kepada al-Quran, Tafsir bil Ma’tsur merupakan penafsiran al-Quran dengan al-Quran lagi, atau dengan mengutip sabda Rasulullah, ucapan Sahabat dan Tabi’in (al-Dzahabi, al-Tafsir wal Mufasirun: 1 : 152).
Tulisan tafsir bil ma’tsur ini terdiri dari pendahuluan, daftar isi, kemudian penutup. Penulis tafsir ini dilakukan dalam beberapa cara yang nantinya akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya kemudian di sisni akan dijalaskan sistematika tafsir panafsiran dari bil Ma’tsur tersebut.
Sistematika Penafsiran
Sistematika penafsiran Jalaluddin Rahmat ini tediri dari beberapa jilid, sistematikanya tidak berdasarkan urutan ayat al-Quran, tetapi lebih banyak berdasarkan pada pesan moral yang disampaikannya. Penulis berharap agar para pembaca dapat berpindah dari satu jilid ke jilid yang lain dengan mudah karena setiap jilid adalah buku tersendiri.
Dalam penulisan teks, tafsir ini ditulis dengan awali ayat-ayat al-Quran, terkemah, kemudian teks yang menjelaskan kandungan ayat ersebut. Berdasarkan tafsir yang saya ambil dari karangan Jalaluddin Rahmat ini, tafsir ini bentuknya seperti buku. Sistematika penafsiran dalam penulisan teks tidak berurutan namun dala buku tafsir (pesan moral al-Quran) ini diawali dengan Ta’udz beserta penafsiranya kemudian basmallah juga beserta penafsiran setelah itu ayat-ayat yang secara tidak berurutan.
Tafisr bil Ma’tsur ini di tulis dengan menggunakan beberapa cara, diantaranya: menjelaskan ayat-ayat dengan Ababun Nuzul, mengutip peristiwa-peristiwa diluar zaman Nabi, yang digunakan para Mufasir untuk menerangkan kandungan makna al-Quran. Dalam tafsir ini, juga terdapat beberapa hadis. Dalam lampiran-lampiran hadist tersebut ditulis berdasarkan tiga hal; Otentisitas (kesahihan hadist), Relevansi (kaitannya dengan pesan moral yang di kandung ayat al-Quran), dan Aktualitas (kaitan pesan moral itu dengan keadaan umat islam sekarang). Hadits-hadis tersebut dikutip berdasarkan peristiwa-peristiwa pada zaman rasulullah, tentu saja pemilihan hadis itu dilakukan secara selektif bukan untuk membela mazhab tertentu seperti dituduhkan sebagian orang yang jahil. Tafsir ini lebih banyak mengandung pesan moral yang disampaikan.
Sistematika Penulisan
Tafsir bil Ma’tsur karangan Jalaluddin Rahnmat ini dalam susunanhya pertama-tama dimulai dengan pendahuluan. Secara garis besar dijelaskan tentang latar belakang tafsir tersebut ditulis, sehingga pada akhir kata mengajak kita semua untuk mengetahui latar belakang dibalik ayat-ayat al-Quran, kemudian daftar isi yang tediri dari tema-tema tersebut tidak saling berkaitan antara satu sama yang lain, jadi tiap tema memiliki pembahasan yang berbeda. Setelah pendahuluan daftar isi kemudian lampiran. Dalam lampiran tersebut terdapat beberapa hadist yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Quran yang ditafsir oleh Jalaluddin Rahmat.
Contoh Penafsiran
Surat At Taubah ayat 75-78 yang artinya:
“Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, Pastilah kami akan bersedekah dan Pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, Karena mereka Telah memungkiri terhadap Allah apa yang Telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga Karena mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib. (QS. At-Taubah: 75-78)
Tafsir ayat ini diberi tema “Berkhianat kepada Tuhan” dengan penjelasan lengkapnya sebagaimana terdapat dalam tafsir bil Ma’tsur sebegai berikut;
Tsa’labah bin Khatib datang menemui Rasulullah Saw. Ia mengadukan tekanan ekonomi yang dideritanya, ia memohon, “Ya Rasul Allah, doakan saya supaya Allah member rezeki yang banyak kepadaku,” Nabi berkata: “Tsa’labah tidakkah kamu ingin meniru keadaanku, padahal apabila aku mau bukit-bukitpun dapat disuruh berjalan bersamaku.” Tsa’labah mendesak: “Doakan saja aku ya Rasul Allah. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, sekiranya Allah memberikan kekayaan kepadaku, aku akan memberikan kepada setiap orang haknya”. Dengan lembut Nabi Saw menasehatinya: “Malang betul kamu Tsa’labah, qalilun tuthiqu syukrahu khairun min katsirin la tuthiq.Sedikit harta tetapi mampu kau syukuri lebih baik dari pada banyak harta tidak mampu kau syukuri.”
Tsa’labah mendesak juga, akhirnya Nabi berdoa supaya Allah melimpahkan kekayaan kepadanya. Ia mulai berniaga, membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga peternakannya semakin sempit. Ia kemudian membangun “ranch” agak jauh dari Madinah, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat jamaah bersama Rasulullah Saw disiang hari. Peternakannya terus berkembang ia memindahkan ketempat lain yang lebih luas, kini ia tidak dapat berjamaah bersama nabi baik siang maupun malam. Tetapi ia masih sempat shalat jumat, ketika peternakannya mencapai puncak, ia tidak lagi bias menghadiri shalat jumat ataupun mengantar jenazah. Alih-alih dengan Rasulullah ia sibuk dengan “jemaah” ternaknya. Nabi Saw sering menanyakan ihwalnya karena merasa kehilangan dia, orang-orang memberitahu beliau bahwa Tsa’labah sekarang sudah sangat kaya.
Kemudian turunlah perintah zakat, Nabi menugaskan dua orang sahabatnya untuk mengumpulkan zakat dari seorang anggota bani Sulaymi dan Tsa’labah. Mula-mula ia menemui Tsa’labah, dengan penuh kecurigaan ia memeriksa surat tugas yang dibawa utusan Nabi, ia member komentar: “Demi Allah, ini betul-betul Jizyah (pajak untuk orang kafir), pergilah kalian ketempat lain dulu, kalau sudah selesai datanglah kesini. Para utusan Nabi segera menemui bani Sulaymi, mereka disambut dengan baik, mereka menyerahkan ternak yang bagus-bagus, ketika ditegaskan bahwa kewajibannya kurang dari itu, ia berkata: “aku tidak ingin mendekatkan diri kepada Allah, kecuali dengan hartaku yang paling baik”. Lepas dari Sulaymi kedua utusan itu menemui Tsa’labah lagi, sekali lagi ia memeriksa surat-surat dengan teliti, “ini betul Jizyah pergilah sampai aku mengambil keputusan”. Ketika kedua utusan itu sampai di Madinah, sebelum mereka bicara, Rasulullah telah mendahuluinya, “Celakalah Tsa’labah, semoga Allah memberkati Sulaymi”. Pada waktu itu turunlah ayat dalam surat at Taubah 75-78
Saudara Tsa’labah mendengar ayat-ayat ini, ia segera menemui Tsa’labah,“celakalah engkau Tsa’labah, Allah menurunkan ayat tentang kamu begini-begini”Tsa’labah ketakutan ia bergegas menemui Nabi Saw, “Ya Rasulullah ini zakat harta saya,” Nabi berkata: “Allah melarang aku menerimanya,” Tsa’labah menangis dan melumuri kepalanya dengan tanah, Nabi bersabda: “Ini karena ulahmu sendiri, aku memerintahkanmu, tetapi kamu tidak menaatiku.” Setelah Rasul wafat, Tsa’labah menyerahkan zakatnya kepada Abu Bakar, kemudian Umar. Tetapi keduanya tidak mau menerimanya. Ia meninggal pada zaman pemerintahan Usman. Ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, alangkah indahnya Nabi bersabda: “Sedikit harta tetapi mampu kau syukuri lebih baik dari banyak harta tetapi tidak mampu kau syukuri”.
Kelebihan
Dilihat dari tafsir tersebut ada beberapa keistimewaan yang dapat kita temukan seperti:
a. Tafsir bil ma’tsur (pesan moral) ini mudah dipahami dan nyaman dibaca karena tafsir ini menyerupai buku-buku bacaan biasa bahkan ada kesan sebagai membaca cerita ketika kita sedang membacanya..
b. Dalam pemilihan ayat, tidak begitu panjang dan penafsirannya pun mudah untuk dicerna.
c. Sistematika penafsiran ini ditulis dengan dominasi asbabun-nuzul sehinggga dengan mudah kita akan mengetahui kandungan dari ayat-ayat tersebut.
Daftar Pustaka
Jalaluddin Rahmat, Tafsir bil Ma’tsur Pesan Moral Al-Qur’an, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, cet ke 3 1999.
Jalaluddin Rahmat, Misteri Wasiat Nabi asal-usul Sunnah Sahabat; Studi Historiografis atas Tarikh Tasyri’, Bandung, Misykat, 2015.
http:/www.majulah-ijabi.org/buku.html. diakses hari selasa pukul 07.00 wibb.
Comments
Post a Comment